Apa itu Open Source?
Open
Source adalah istilah yang digunakan dalam software komputer yang berarti
bebas, artinya memungkinkan pengguna lain untuk membuka source code dari
program sehingga dapat mengetahui dengan jelas cara kerja dari software
tersebut. Selain itu siapa saja boleh mengubah dan memperbaiki kekurangan
bahkan diperbolehkan untuk mengembangkan software tersebut agar memperoleh
kinerja yang lebih baik.
Kelebihan Open Source
- Didapatkan secara gratis
- Software Open Source biasanya dikembangkan oleh suatu lembaga atau komunitas yang ahli dibidangnya secara bersama-sama sehingga masalah yang ditemukan bisa dengan cepat teratasi dan software menjadi selalu up to date.
- Fitur yang banyak dan kompleks dan memiliki kemampuan yang baik.
- Software Open Source berlisensi GPL (General Public Licence) sehingga pengguna tidak dikenakan biaya untuk software tersebut.
Kekurangan Open Source
- Tampilan dari software open source cenderung rumit bagi user pemula
- Beberapa software open source memiliki kinerja tak lebih baik dari software close source.
- Pemula sering menemui kesulitan dalam instalasi dan penggunaan software open source.
Sejarah Perkembangan Open Source
Dimulai tahun 1994-1995,
server-server di Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai menggunakan
FreeBSD sebagai sistem operasinya. FreeBSD merupakan sistem operasi open source
yang tangguh dalam hal keamanan jaringan
maupun server. Tetapi kemudian para administrator jaringan di Computer Network
Research Group (CNRG) ITB lebih menyukai laptop Mac dengan sistem
operasi Mac OS X yang berbasis BSD daripada sistem operasi yang lain.
Istilah dari open source (kode program terbuka) sendiri baru
dipopulerkan pada tahun 1998. Namun, sejarah piranti lunak open source sendiri
bisa ditarik jauh ke belakang semenjak kultur hacker berkembang di
laboratorium-laboratorium komputer di universitas Amerika seperti di Stanford
University, University of California Berkeley dan Massachusetts Institute of
Technology (MIT) pada tahun 1960-1970 an.
Perkembangan ini dipelopori oleh Richard Stallman dan teman-temannya yang
mengembangkan banyak aplikasi di komputer DEC PDP-10. Pada awal tahun 1980-an
komunitas hacker di MIT dan universitas-universitas lainnya bubar karena DEC
menghentikan PDP-10. Hal itu berakibat banyak aplikasi yang dikembangkan di
PDP-10 menjadi kadaluarsa. Pengganti dari PDP-10, seperti VAX dan 68020, yang
memiliki sistem operasi sendiri, dan tidak ada satupun piranti lunak bebas.
Pengguna harus menandatangani non-disclosure agreement untuk bisa mendapatkan
aplikasi yang bisa dijalankan di sistem-sistem operasi ini.
Oleh karena itu pada bulan Januari
1984 Richard Stallman keluar dari MIT, agar MIT tidak dapat mengklaim
piranti-piranti lunak yang dikembangkannya. Pada tahun 1985 beliau mendirikan
organisasi nirlaba Free Software Foundation.
Tujuan utama dari organisasi ini adalah
untuk mengembangkan sistem operasi. Dengan FSF Stallman telah mengembangkan
berbagai piranti lunak : gcc (pengompilasi C), gdb (debugger), Emacs (editor
teks) dan perkakas-perkakas lainnya, yang dikenal dengan peranti lunak GNU.
Walaupun begitu Stallman dan FSFnya hingga sekarang belum berhasil
mengembangkan suatu kernel sistem operasi yang menjadi target utamanya. Ada
beberapa penyebab kegagalannya, salah satunya yang mendasar adalah sistem
operasi tersebut dikembangkan oleh sekelompok kecil pengembang, dan tidak
melibatkan komunitas yang lebih luas dalam pengembangnya.
Pada tahun 1991, seorang mahasiswa
S2 Universitas Helsinki, Finlandia mulai mengembangkan suatu sistem operasi
yang disebutnya dengan Linux. Dalam pengembangannya Linus Torvalds melempar
kode program dari Linux ke komunitas terbuka untuk dikembangkan secara
bersama-sama.
Komunitas Linux terus berkembang
dimana-mana kemudian akhirnya melahirkan distribusi-distribusi Linux yang
berbeda tetapi mempunyai pondasi yang sama yaitu kernel Linux dan librari GNU
glibc seperti RedHat, SuSE, Mandrake, Slackware, Debian dan lainnya. Beberapa
dari distribusi di atas ada yang bertahan dan besar, bahkan sampai menghasilkan
distro turunan, contohnya Distro Debian GNU/Linux. Distro ini menghasilkan
puluhan distro anak, antara lain Ubuntu, Knoppix, Xandros, dan lainnya.
Free Software Foundation (FSF)
selain perangkat lunak adalah lisensi GPL (GNU public License), dimana lisensi
ini memberi kebebasan bagi penggunanya untuk menggunakan dan melihat kode
program, memodifikasi dan mendistribusi ulang piranti lunak tersebut dan juga
jaminan kebebasan untuk menjadikan hasil modifikasi tersebut tetap bebas
didistribusikan. Linus Torvalds juga menggunakan lisensi dalam pengembangan
dasar Linux.
Seiring dengan semakin stabilnya
rilis dari distribusi Linux, semakin meningkat juga minat dari piranti lunak
yang bebas untuk di sharing seperti Linux dan GNU tersebut, juga meningkatkan
kebutuhan untuk mendefinisikan jenis piranti lunak tersebut.
Akan tetapi terminologi "free"
yang dimaksud oleh FSF menimbulkan banyak persepsi dari tiap orang. Sebagian
mengartikan kebebasan sebagaimana yang dimaksud dalam GPL, dan sebagian lagi
mengartikan untuk arti gratis dalam ekonomi.
Para eksekutif di dunia bisnis juga
mengkhawatirkan keberadaan perangkat lunak gratis dianggap aneh. Kondisi ini
juga mendorong munculnya terminologi "open source" dalam tahun 1998,
yang juga mendorong terbentuknya OSI (Open Source Intiative) suatu organisasi
nirlaba yang mendorong pemasyarakatan dan penyatuan "Open Source",
yang diinisiasi oleh Eric Raymond dan timnya.
Hingga saat ini software yang
bersifat opensource semakin berkembang karena semakin banyak penggunanya yang
ikut berpartisipasi dalam pengembangannya.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar